rjgMtIfGYu4OB4QkmjHAeAZy7ixF2fuByIYhJHQr

Tuduhan Menjadi Beban

16 Tahun Menatap Layar: Saat Komputer Terasa Menjemukan dan Tuduhan Menjadi Beban
16 Tahun Menatap Layar: Saat Komputer Terasa Menjemukan dan Tuduhan Menjadi Beban

Saya ingin jujur mengenai apa yang saya rasakan saat ini. Sebagai seseorang yang sudah bergelut di dunia pemrograman sejak tahun 2008, saya telah sampai pada satu titik yang mungkin sulit dipahami orang lain: saya merasa jenuh, bahkan cenderung muak, setiap kali harus berhadapan dengan komputer.

Bayangkan saja, sudah lebih dari 16 tahun hidup saya habis untuk menatap barisan kode dan piksel yang sama setiap harinya. Analogi yang paling pas adalah seperti seorang guru senior yang sudah mengabdi belasan tahun; ada kalanya ia merasa sangat bosan bahkan hanya untuk melihat kapur tulis atau spidol di tangannya.

"Bukan karena ia tidak lagi mampu mengajar, tapi karena alat kerja itu telah menjadi simbol rutinitas yang sangat melelahkan selama belasan tahun. Begitulah kondisi saya dengan komputer saat ini."

Namun, di tengah rasa lelah yang luar biasa ini, ada satu beban tambahan yang seringkali membuat saya merasa terpojok. Sebagai orang yang dianggap "paham IT", saya sering kali menjadi sasaran pertama ketika terjadi masalah digital di lingkungan sekitar.


Sering kali, ketika ada teman atau kerabat yang akun media sosialnya bermasalah atau kata sandinya hilang, saya adalah orang pertama yang dicurigai. Lebih jauh lagi, ada tuduhan-tuduhan yang lebih menyakitkan, seperti saat akun WhatsApp seseorang diretas atau mengirimkan pesan-pesan acak yang menyerang orang lain maupun organisasi.

Entah bagaimana, asumsi orang selalu mengarah kepada saya. Mereka seolah berpikir, "Ah, dia kan programmer, dia pasti bisa (dan mau) melakukan hal seperti itu."

Inilah ironi yang saya hadapi. Faktanya, untuk sekadar menyalakan laptop demi pekerjaan saja, saya harus mengumpulkan niat yang sangat besar karena rasa jenuh yang sudah di ubun-ubun. Sangat tidak masuk akal jika di tengah rasa "enek" saya terhadap teknologi, saya justru meluangkan waktu ekstra untuk meretas akun orang lain atau mengirimkan pesan-pesan tidak jelas.


Mengapa saya harus melakukan sesuatu yang destruktif di dunia yang justru sedang ingin saya hindari? Bagi saya, meretas atau mengganggu privasi orang lain membutuhkan fokus dan energi yang besar—hal yang saat ini justru sedang saya hemat demi menjaga kesehatan mental saya sendiri. Saya sudah cukup lelah dengan dunia biner.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa menjadi programmer tidak lantas membuat seseorang menjadi pelaku setiap kali ada masalah siber. Di balik keahlian teknis yang saya miliki, saya juga manusia biasa yang bisa merasa bosan dan butuh ketenangan.

Saat ini, yang saya butuhkan bukanlah akses ke akun orang lain, melainkan jarak dari layar komputer agar saya bisa kembali merasa "hidup" di dunia nyata, jauh dari segala prasangka dan tuduhan yang tidak berdasar.


Ditulis sebagai refleksi pribadi atas perjalanan profesi dan kejenuhan digital.

Posting Komentar