rjgMtIfGYu4OB4QkmjHAeAZy7ixF2fuByIYhJHQr

Mengapa Moralitas Tidak Menyelamatkan

Mengapa Moralitas Tidak Menyelamatkan
"Timbangan Kebaikan" yang Rusak: Mengapa Amal Tidak Bisa Menghapus Dosa?

Ada sebuah pertanyaan menggelitik yang sering muncul dalam benak manusia tentang keadilan Tuhan:

"Jika manusia dihukum karena berbuat dosa, mengapa ketika manusia berbuat baik, perbuatan itu tidak bisa dipakai untuk menghapus dosa tersebut?"

Logika manusia sering kali bekerja seperti sistem barter atau timbangan pasar. Kita berpikir, jika kita punya "10 dosa", maka kita cukup melakukan "11 kebaikan" untuk menutupinya, dan kita akan selamat.

Namun, Kekristenan memberikan jawaban yang mengejutkan: Tidak bisa. Kebaikan, sebanyak apa pun itu, tidak akan pernah bisa membatalkan dosa. Mengapa? Ini bukan soal jumlah, ini soal natur dan keadilan yang absolut.

1. Dosa Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Status

Kesalahpahaman terbesar manusia adalah menganggap dosa hanya sebagai "daftar kenakalan". Padahal, Alkitab menegaskan bahwa dosa adalah kondisi natur manusia yang terpisah dari Allah (Roma 3:23).

Dosa membuat manusia mengalami kematian rohani (Roma 6:23). Masalahnya adalah masalah ontologis (keberadaan), bukan sekadar masalah perilaku.

Ibarat sebuah gelas yang berisi air racun. Anda tidak bisa membuat air itu layak minum hanya dengan menuangkan sesendok air bersih atau menghias gelasnya dengan emas. Kebaikan (hiasan luar) tidak mengubah fakta bahwa natur di dalamnya (airnya) tetap beracun. Status kita di hadapan Allah adalah "mati secara rohani", dan orang mati tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri dengan beramal.

2. Analogi Pengadilan: Donasi vs Pembunuhan

Mari kita bicara soal keadilan. Keadilan Tuhan itu absolut dan sempurna, bukan komparatif.

Bayangkan seseorang melakukan pelanggaran hukum pidana berat, misalnya pembunuhan. Dia ditangkap dan dibawa ke hadapan hakim. Di pengadilan, orang ini berkata:

"Pak Hakim, memang benar saya membunuh. Tapi tolong ingat, sebelumnya saya sudah menyumbangkan miliaran rupiah untuk panti asuhan, saya menolong nenek menyeberang jalan, dan saya ramah pada tetangga. Apakah kebaikan-kebaikan saya itu tidak bisa menghapus kesalahan saya membunuh satu orang ini?"

Jika hakim itu adil, apa jawabannya?

Jawabannya pasti: TIDAK.

Donasi adalah perbuatan mulia, tetapi donasi tidak membatalkan fakta hukum bahwa sebuah nyawa telah hilang. Kejahatan harus tetap dihukum demi tegaknya keadilan.

Demikian juga dengan Tuhan. Dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah yang kudus. Kebaikan kita di masa lalu atau masa depan tidak bisa "menyogok" Allah untuk melupakan pelanggaran kita. Jika Allah membiarkan dosa tanpa hukuman hanya karena kita pernah berbuat baik, maka Allah menjadi Hakim yang tidak adil.

Seperti tertulis dalam Yakobus 2:10, "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." Satu lubang kecil pada ban sudah cukup untuk disebut "bocor". Satu dosa sudah cukup untuk mencemari kekudusan.

3. Keselamatan: Bukan Upah, Tapi Anugerah

Jika kebaikan tidak bisa menghapus dosa, lalu bagaimana manusia bisa selamat?

Di sinilah letak keindahan Injil. Karena manusia tidak mampu "membayar" utang dosanya, dan Keadilan Allah menuntut adanya hukuman, maka Allah sendiri yang menyediakan solusinya.

Pengampunan terjadi bukan dengan melupakan keadilan, melainkan melalui penebusan. Hukuman itu tetap ditimpakan, namun ditanggung oleh Kristus.

Itulah sebabnya keselamatan adalah Anugerah (Efesus 2:8-9), bukan Upah. Upah adalah sesuatu yang kita terima karena kita layak (hasil kerja). Anugerah adalah pemberian bagi mereka yang sebenarnya tidak layak.

4. Lantas, Apakah Berbuat Baik Itu Percuma?

Tentu tidak. Perbuatan baik tetap memiliki nilai yang sangat penting, namun kita harus menempatkannya pada posisi yang benar.

  • Secara Soteriologis (Keselamatan): Perbuatan baik bukanlah "akar" keselamatan, melainkan "buah" dari keselamatan. Kita berbuat baik bukan supaya selamat, tapi karena sudah diselamatkan.
  • Secara Etis & Hukum Tabur Tuai: Tuhan tetaplah adil. Seperti tertulis dalam Galatia 6:7 dan Amsal 11:18, ada hukum tabur tuai di bumi.

Kebaikan yang dilakukan manusia (sekalipun belum percaya Kristus) tetap dihargai Tuhan dalam konteks kehidupan duniawi (Common Grace). Perbuatan baik mendatangkan keharmonisan sosial, damai sejahtera, dan sering kali mendatangkan berkat fisik atau reputasi baik bagi pelakunya di bumi.

Namun, jangan tertipu. Seseorang bisa menjadi warga negara yang sangat "baik" secara moral, dermawan, dan santun, namun tetap "hilang" secara rohani di hadapan Allah karena dosanya belum ditebus oleh Sang Juruselamat.


Jadi, berhentilah mencoba menyogok Tuhan dengan amalmu. Amalmu mungkin bermanfaat bagi sesamamu, tapi hanya Darah Kristus yang mampu menyucikan hati nuranimu dan mendamaikanmu dengan Sang Pencipta.

Posting Komentar