rjgMtIfGYu4OB4QkmjHAeAZy7ixF2fuByIYhJHQr

Sebuah Pengakuan tentang Luka

Sebuah catatan perjalanan memutus rantai trauma
Sebuah catatan perjalanan memutus rantai trauma

Menjadi anak seorang pendeta sering kali dianggap sebagai sebuah privilese rohani. Orang membayangkan hidup kami dipenuhi kedamaian, doa yang selalu dijawab, dan keluarga yang harmonis bak poster di dinding sekolah minggu. Namun, bagi saya—versi saya yang lebih muda dulu—gelar itu bukanlah berkat, melainkan beban tak kasat mata yang meremukkan tulang punggung saya perlahan-lahan.

Hari ini, saya ingin menelanjangi masa lalu itu. Bukan untuk menghakimi siapapun, tapi untuk berdamai dengan anak kecil di dalam diri saya yang pernah begitu marah pada dunia.


Masa sekolah, khususnya saat SMA, adalah etalase kekejaman yang nyata bagi saya. Menjadi minoritas di lingkungan mayoritas sudah cukup berat, namun label "anak pendeta" membuat sasaran di punggung saya menjadi lebih besar dan mencolok.

Saya masih ingat rasanya. Kata-kata itu bukan sekadar lelucon, melainkan serangan yang tajam. "Dasar anak pendeta bajingan," teriak mereka. Atau yang lebih menyentuh ulu hati, hinaan teologis seperti, "Orang Kristen tuhannya domba." Setiap hari, saya harus menelan ludah, menahan emosi, dan berpura-pura tuli.

Tapi luka yang paling dalam sering kali tidak berdarah. Luka itu bernama pengucilan.

Ada satu pemandangan yang selalu terulang dan menyayat hati saya setiap kali bel pulang sekolah berbunyi. Teman-teman akan bergerombol, tertawa lepas, merencanakan untuk pergi main atau nongkrong di suatu tempat. Mesin motor dinyalakan, derum knalpot bersahutan. Satu per satu mereka pergi, berboncengan.

Dan di sanalah saya. Berdiri diam. Tidak ada yang mengajak. Tidak ada yang menoleh.

Alasannya sederhana dan brutal: saya miskin. Saya tidak punya motor. Siapa yang mau repot memboncengi anak pendeta yang pendiam dan tak punya modal pergaulan ini? Di tengah debu jalanan yang ditinggalkan teman-teman, saya belajar satu pelajaran pahit: Dunia tidak ramah pada mereka yang berbeda dan tak punya apa-apa.


Jika sekolah adalah medan perang, saya berharap rumah adalah tempat perlindungan. Namun, harapan itu pun pupus. Rumah saya lebih terasa seperti kantor pelayanan publik yang buka 24 jam.

Orang tua saya adalah orang baik. Sangat baik. Bagi jemaat dan orang luar, mereka adalah pahlawan. Tapi bagi saya, mereka terasa seperti "Menteri Sosial" bagi orang lain, namun absen bagi anaknya sendiri.

Ada paradoks yang menyakitkan di rumah kami. Setiap kali saya memiliki keinginan selayaknya remaja normal, atau meminta sesuatu, jawabannya selalu baku dan dingin: "Berdoa dulu, ya." Kalimat itu kemudian disusul dengan ceramah panjang lebar tentang harus bersyukur, tentang menjaga nama baik, dan tentang hidup sederhana.

"Kenapa saya harus dituntut sempurna?" batin saya berteriak. "Kenapa hanya karena saya anak pendeta, saya tidak boleh punya keinginan? Kenapa saya tidak boleh salah?"

Puncak kekecewaan itu muncul ketika saya tahu orang tua saya memiliki uang. Namun, alih-alih untuk kebutuhan saya yang sudah lama saya pendam, uang itu justru melayang keluar—diberikan untuk membantu kebutuhan orang lain atas nama pelayanan. Saya merasa menjadi yatim piatu di dalam rumah yang penuh dengan orang berdoa.


Manusia punya batas. Akumulasi dari penghinaan di sekolah dan pengabaian di rumah akhirnya menciptakan monster. Saya lelah menjadi korban. Saya lelah menjadi "anak baik" yang tidak dianggap.

Di masa SMA, saya memutuskan untuk membalikkan keadaan. Saya mulai melawan. Mereka yang dulu merundung saya, saya kejar. Saya hajar. Saya pukuli. Ada kepuasan gelap saat melihat ketakutan di mata mereka yang dulu meremehkan saya. Kekerasan menjadi bahasa baru saya.

Untuk meredam gemuruh di dada—campuran antara amarah, rasa bersalah, dan kesepian—saya menemukan teman baru: alkohol.

Saya mulai minum-minuman keras. Bukan untuk gaya-gayaan. Saya minum untuk mematikan rasa. Saya minum supaya saya bisa tidur tanpa harus mengingat betapa sepinya hidup saya. Saya menjadi temperamental, mudah meledak.

Lingkungan pun memberi label baru: "Anak Pendeta Nakal."

Mereka menghakimi tanpa tahu bahwa kenakalan itu adalah jeritan minta tolong yang paling keras. Saya tidak lahir nakal. Saya dibentuk oleh kekecewaan demi kekecewaan yang tak terselesaikan.


Semua pelarian pasti ada ujungnya. Dan ujung jalan saya adalah sebuah kantor polisi.

Akibat perkelahian dan kenakalan yang makin menjadi, saya harus berurusan dengan hukum. Di ruangan yang dingin dan asing itu, ego saya runtuh seketika saat melihat orang tua saya datang.

Saya bersiap untuk diceramahi atau dimarahi. Tapi tidak. Mereka menangis.

Melihat air mata mereka, pertahanan saya hancur lebur. Di titik itulah saya sadar, pemberontakan saya tidak menyembuhkan luka saya, justru menambah luka baru bagi kami semua. Hari itu menjadi titik balik. Saya memutuskan untuk berhenti.

Saya mulai menata hidup. Saya menyaring pergaulan dengan ketat. Saya menjauh dari lingkungan toxic yang saling menindas. Saya belajar bahwa lebih baik memiliki sedikit teman tapi tulus dan nyaman, daripada dikelilingi banyak orang tapi harus selalu waspada. Saya memilih menjadi manusia yang lebih baik, bukan untuk orang lain, tapi untuk menyelamatkan diri saya sendiri.

"Saya sudah pernah merasakan pahitnya diabaikan dan sakitnya label yang dipaksakan. Rantai trauma itu harus putus di saya."

Waktu berlalu, dan kini saya berdiri di sini sebagai seorang ayah dari dua anak.

Setiap kali saya menatap wajah anak-anak saya, bayangan masa lalu itu kadang masih berkelebat. Tapi itu justru menguatkan tekad saya. Saya memiliki satu misi dalam hidup: Anak-anak saya tidak boleh mengalami apa yang saya alami dulu.

Mereka tidak akan saya biarkan merasa sendirian saat dunia jahat kepada mereka. Saya tidak akan menjadi "Menteri Sosial" yang sibuk mengurus dunia tapi lupa memeluk anak sendiri di rumah. Dan yang terpenting, mereka tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.

Masa lalu saya mungkin kelam, penuh lebam dan aroma alkohol. Tapi jika semua rasa sakit itu adalah harga yang harus dibayar agar saya bisa mengerti cara menjadi ayah yang hadir dan melindungi hati anak-anak saya sekarang, maka saya ikhlas.

Saya sudah berdamai dengan masa lalu. Dan sekarang, saatnya membangun masa depan yang berbeda untuk mereka.

Posting Komentar