Semuanya bermula dari obrolan ringan sebelum rapat keuangan dimulai. Saat itu saya sedang berbincang santai dengan Pak Budi dan Pak Fri Suhandy. Suasananya cair, tidak ada yang serius, sampai sebuah pertanyaan sederhana terlontar.
"Theo, anak kamu sekarang berapa?" tanya Pak Budi.
"Dua, Pak," jawab saya singkat.
Pak Budi lantas menimpali dengan nada bercanda, "Tambah satu lagi lah."
Saya tersenyum kecut, membayangkan tagihan bulanan. "Waduh, biaya hidup jadi semakin tinggi sekarang, Pak," sanggah saya realistis.
Lalu muncullah seloroh yang menjadi pemantik tulisan ini. Dengan santai Pak Budi berkata, "Tenang, nanti kan dibayarin sama negara."
Kami tertawa saat itu. Tapi setelah tawa mereda, kalimat "dibayarin negara" itu terus berputar di kepala saya.
Saya sadar satu hal: Ketika sesuatu dibilang "gratis" atau "dibayarin negara", itu tidak benar-benar gratis. Negara dapat uang dari mana? Dari pajak rakyat. Dari kita juga.
Dari situlah muncul kesimpulan yang menohok: "Sebenarnya yang gratis pun, aslinya ada yang bayarin."
Tidak ada makan siang gratis. Jika si penerima tidak membayar, berarti ada pihak lain yang sedang menanggung biayanya diam-diam. Dan ironisnya, prinsip ekonomi ini sangat pas menggambarkan nasib saya di pekerjaan sehari-hari.
Di kantor, saya sering dikenal sebagai orang yang "sabar". Saya sering menghadapi rekan kerja yang bersikap bodo amat, menyepelekan hal penting, dan bekerja dengan alur SOP yang berantakan.
Mereka bisa bekerja dengan santai, melakukan kesalahan konyol karena ketidaktelitian, lalu pulang dengan tenang. Bagi mereka, kesalahan itu "gratis". Tidak ada potong gaji, tidak ada sanksi berat. Aman.
Tapi kembali ke prinsip tadi: Kalau mereka dapat gratis, berarti ada yang bayarin.
Siapa yang bayar? Saya.
Sayalah yang "membayar" ketololan dan keteledoran mereka.
Mata uangnya bukan Rupiah, tapi kewarasan, waktu, dan tenaga ekstra.
Saya harus mentolerir kesalahan orang lain, membereskan kekacauan yang mereka buat, dan menambal SOP yang tidak pernah dibenahi dari dulu. Semua itu saya lakukan agar operasional tetap jalan. Orang bilang itu "sabar", padahal aslinya saya sedang mensubsidi ketidakmampuan orang lain.
Obrolan dengan Pak Budi dan Pak Fri hari itu membuka mata saya. Bahwa kenyamanan yang dinikmati oleh orang-orang yang bekerja asal-asalan itu, sebenarnya dibayar mahal oleh orang-orang yang peduli dan kompeten di sekitarnya.
Saya mulai berpikir, mungkin sudah saatnya berhenti "membayari" tagihan orang lain. Karena selama saya terus sabar dan membereskan semuanya, SOP yang busuk itu tidak akan pernah diperbaiki, dan orang-orang yang teledor itu tidak akan pernah belajar bertanggung jawab.
Ternyata benar, tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk kesabaran saya.

Posting Komentar