Dalam dunia pembuatan sistem dan desain aplikasi, ada satu kesalahan yang sering terjadi: si pembuat terlalu jatuh cinta pada karyanya sendiri.
Kita rela menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuat sistem yang canggih dengan tampilan yang menurut kita sangat bagus. Di mata kita, karya tersebut sudah sempurna. Namun, saat sistem itu diserahkan kepada pengguna nyata, kenyataannya sering berbeda.
Pengguna malah bingung cara pakainya. Mereka mengeluh alurnya terlalu rumit, atau bahkan malas menggunakannya karena dianggap tidak praktis. Saat mendengar hal ini, ego kita sebagai pembuat biasanya tidak terima.
Mengingat hal ini, saya jadi teringat pada kebijakan mutu di kampus S1 Teknik Informatika saya dulu, yang berbunyi: "Kreatif, Inovatif, & Dedikatif Demi Kepuasan Pelanggan."
Sekilas, kalimat ini terdengar seperti semboyan biasa. Tapi dalam dunia kerja nyata, ini adalah pedoman yang sangat penting untuk menekan ego kita. Mari kita bahas satu per satu:
1. Kreatif untuk Memberi SolusiKreatif dalam membuat sistem bukan berarti membuat tampilan yang paling unik atau rumit. Kreatif yang benar adalah kemampuan mencari jalan keluar yang paling mudah untuk pengguna.
Kita tidak perlu memaksakan desain modern yang gelap (dark mode) jika pengguna sistem kita kebanyakan adalah orang tua yang membutuhkan tulisan besar dan latar terang. Kreativitas di sini berfungsi untuk mempermudah hidup orang lain, bukan sekadar pamer kepintaran.
2. Inovatif yang Tepat SasaranBanyak pembuat sistem yang selalu ingin memasukkan teknologi terbaru. Memasukkan fitur Artificial Intelligence (AI) di aplikasi sederhana mungkin terdengar keren.
Namun, kalau fitur itu malah membuat aplikasi jadi lambat dan membingungkan pengguna, itu bukan inovasi, melainkan beban. Inovasi yang baik harus selalu berangkat dari kebutuhan pengguna, bukan keinginan pembuatnya.
3. Dedikatif (Siap Menerima Masukan)Ini adalah pilar yang paling membutuhkan kerendahan hati. Dedikasi berarti kita mau menyingkirkan gengsi saat hasil kerja kita dikritik, diminta revisi, atau bahkan ditolak oleh pengguna.
Pembuat sistem yang baik tidak akan menyalahkan penggunanya dengan sebutan "gaptek". Ia akan mendengar masukan tersebut dan memperbaiki sistemnya dengan sabar.
Dari pengalaman panjang menghadapi hal ini, saya akhirnya sampai pada satu titik kedewasaan dalam bekerja. Saya lebih senang memposisikan diri sebagai penerjemah antara bahasa manusia dengan bahasa mesin.
Karena prinsip ini, cara kerja saya sekarang mungkin bisa dibilang "agak malas", tapi sebenarnya jauh lebih praktis dan efisien.
Daripada saya lelah merancang format laporan dari awal hanya berdasarkan tebakan atau selera pribadi, saya lebih suka langsung bertanya kepada klien di awal: "Apakah Bapak/Ibu punya contoh format laporan yang biasa dipakai dan sesuai dengan kriteria Anda?"
Langkah sederhana ini mencegah saya dari kebiasaan menebak-nebak kemauan klien. Sebab, secanggih apa pun sebuah sistem dibuat, kalau pada akhirnya membingungkan dan tidak terpakai oleh penggunanya, maka sistem itu tidak ada gunanya.
Membuat sistem adalah soal melatih empati. Kita dituntut untuk keluar dari sudut pandang kita sendiri dan belajar melihat dari kacamata orang lain. Karena sehebat apa pun karya yang kita buat, nilai sejatinya baru terlihat saat karya itu benar-benar terpakai dan menjadi solusi bagi orang lain.

Posting Komentar